Monday, March 3, 2008

Sebuah Perjalanan (bagian ketiga)

[Melangkahkan kaki di Denpasar]
Yang ini benar-benar melangkahkan kaki, karena di sore itu, kami ”para wanita” berempat, mencoba berjalan kaki, menyusuri Jalan Diponegoro ke arah utara dari Hotel Rai. Tanpa menghitung jumlah langkah, kami merasakan pedestrian yang terukir cantik dan disediakan untuk kaum difabel. Agak berbeda dengan pedestrian untuk difabel yang biasa kami temui di Jogja atau Solo, di Jalan Diponegoro ini ada sentuhan akhirnya, karena di pinggir tegel kuning terpasang koral sikat yang cukup jelita. Ya, Bali tetep bersolek.
Setiba di perempatan Bank Permata, kami berbelok ke kanan. Jalan aspal satu arah membuat pemandangan begitu lengang. Dengan latar belakang bangunan yang ”berasa” Bali, atau entah ada tempelan yang dipaksakan agar ”berasa” Bali, kami menikmati frame demi frame suatu sisi di Denpasar. Mendung menggelanyut tak bisa mematahkan keinginan kami untuk menyusuri pedestrian yang kini tak secantik pedestrian di Jalan Diponegoro.


Sambil berjalan, berkecamuklah di benakku, bangunan-bangunan manakah yang ”Bali”?









[Di Bali ada (banyak) Mc D]
Di perempatan berikutnya, yang tertangkap jelas oleh mataku adalah brand ayam goreng dari negeri Paman Sam. Hari gini, siapa sih yang nggak kenal McD? Ya, Mc Donald sudah menggurita di seluruh bumi. Di sejengkal Bali saja, ada berapa out let waralaba ini. Belum lagi, McD juga secara mencolok mengibarkan bendera dagangnya dan yang pasti berpengaruh juga pada tampilan arsitekturnya.








Tampilan luar bangunan yang “berasa” Bali, tidak seirama dengan interiornya. Rasa Bali benar-benar hilang ketika aku berada dalam ruang makannya. Kecuali harum dupa yang dibakar, tak ada yang bisa membedakan di McD mana aku berada, apakah di Jakarta, di Jogja, di Solo, atau di Denpasar.

No comments: