Showing posts with label warna putih. Show all posts
Showing posts with label warna putih. Show all posts

Wednesday, November 25, 2009

Selamat Idul Adha

Selamat Idul Adha!


Belajar dari Nabi Ibrahim as, belajar menjadi kekasih Allah.
(perenungan di Mina)

Monday, November 24, 2008

Aku Merindu-Mu

Di Jarwal Makkah ini, Engkau jemput "pulang" Bapak-ku dengan cara yang sangat indah. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar!

Aku rindu Bapak yang saat ini Kau dekap. (... aku yakin, janji-Mu adalah benar)
Aku rindu rumah-Mu. Aku merindu-Mu.

Semoga terpatri dalam hati:
Ya, Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu.

Thursday, August 14, 2008

Go Green!

Go green ...! Hijau?

Sehijau apa ya aku ini? Aku belum sepenuhnya hijau. Baru berusaha hijau.

Setidaknya dengan memisahkan antara sampah basah dan sampah keringku, aku berusaha menjadi lebih hijau. (sampah kering kumasukkan ke tas kresek putih, dan sampah basah dalam tas kresek hitam)Dengan memisahkan sampah yang bisa aku buat kompos, dan kubuatlah kompos di halaman belakang rumahku, aku berusaha menjadi hijau.
Dengan memisahkan sampah tissue bekas dengan sampah lain, kemudian tissue bekas tersebut aku ikutkan dalam pembuatan kompos, aku berusaha "menebus dosa" dan kembali hijau. (aku belum bisa lepas dari ketergantunganku pada tissue yang telah turut andil dalam membuat hutan kita tak sehijau dahulu, maafkan aku)

Dengan memisahkan biji buah yang aku makan, kemudian aku tanam di halaman belakang rumahku, aku berusaha bisa membuat bumi lebih hijau. (sebenarnya lebih sering aku "lempar" ke halaman belakang daripada aku tanam manis dalam pot)Aku berusaha hijau. Naif?



Sunday, June 29, 2008

Selasa Bersama Morrie

Aku terkesan banget dengan buku "Tuesdays with Morrie", Pelajaran tentang Makna Hidup. Buku ini ditulis oleh Mitch Albom.

Bagi Micth Albom, kesempatan kedua yang dia dapatkan itu adalah karena suatu keajaiban yang mempertemukannya kembali dengan mantan dosennya, Morrie, pada bulan-bulan terakhir hidupnya. Keakraban yang segera hidup kembali di antara murid dan guru itu sekaligus menjadi "kuliah" terakhir: kuliah tentang cara menjalani hidup.

Ini bukan kali pertama aku membaca buku ini. Tetapi aku sangat terinspirasi dari "kuliah" ini.

Kepada para guru yang pernah mendidikku, aku menghaturkan terima kasih.
Semoga, ilmu yang engkau berikan padaku, bisa aku bagi kepada murid-muridku.
Kalau di dunia bisnis MLM (multi level marketing), dalam dunia pendidikan pun akan ada multi level penyebaran ilmu. Semoga "guru"-ku akan menempati level tertinggi, mendapatkan amal jariah... aamiin...

Sunday, June 22, 2008

Aku Bersyukur

Perjalananku kali ini, bukanlah perjalanan yang jauh. Bukan pula perjalanan yang sangat lama. Tapi entah mengapa, justru dengan perjalanan kali ini, aku bisa belajar banyak hal. Aku bisa melihat "aku" dari sisi yang lain. Aku semakin memiliki kesadaran waktu dan tempat, yang ternyata "ada-nya aku" pada saat tertentu di tempat tertentu adalah semua karena-Nya. Aku bersyukur. Aku sangat bersyukur. Alhamdulillah...

Monday, June 2, 2008

Silaturahmi

Mancari tempat duduk di kereta Prameks IV pagi menjadi aktivitas rutin tiap senin di Stasiun Tugu. Tentu saja aku berharap mendapatkan kenyamanan selama perjalanan dari Jogja ke Solo. Sebagai kaum komuter, aku berusaha menikmati setiap perjalananku. Membaca buku, mengamati perilaku orang, dan ngobrol adalah hal yang sering aku lakukan di Prameks (selain tidur, tentu saja).

Pagi tadi, "kebetulan" terjadi lagi. Kebetulan ada seorang gadis yang menyapa, "Mbak-nya yang kemarin ke Lembah Hijau ya?". "Lho kok tau?" pertanyaan tersebut kujawab dengan pertanyaan. Ternyata Mbak Pipit, nama gadis tersebut adalah dokter hewan di Lembah Hijau Multifarm. Ceritanya jadi nyambung deh! Bukan hanya bercerita tentang sapi-sapi yang setiap hari di-gaul-i Mbak Pipit, ceritanya melebar. Dari hal ini aku jadi merasa "dunia ternyata sempit" ya. Silaturahmi jadi nyambung.

Kejadian seperti ini sebenarnya bukan yang kali pertama. Sering aku menyambung silaturahmi dengan beberapa orang yang dulunya "tidak kenal", hingga kenal, kenal sangat baik, bisa saling tau, saling tukar informasi dan pada tahapan tertentu bisa saling memahami. Mungkin orang "bule" menyebut perlunya net work untuk bisa mendapatkan atau mencapai sesuatu dalam bisnisnya. Tetapi, berdasarkan pengalamanku, aku sering sekali mendapat berbagai kemudahan kerena hubungan silaturahmi yang baik (tentu saja: secara kuantitas dan kualitas). Beberapa pekerjaan, aktivitas, ilmu, bahkan rejeki (orang suka menyebutnya penghasilan: uang, harta dan sebagainya) yang aku terima, jalannya atau salurannya adalah melalui silaturahmi yang baik.

Aku percaya, Allah yang memberi rejeki, dan rejeki tersebut tidak bisa diduga dari mana datangnya. Aku percaya, silaturahmi adalah salah satunya.

Senyum, dan sambung silaturahmi yuuuk....

Monday, May 26, 2008

Terima Kasih

Aku berusaha menjadi manusia yang bisa bersyukur. Hatiku menggumankan dan bibirku mengucapkan alhamdulillah... Sebentuk pujian atas segala karunia-Nya. "Terima kasih" untuk Sang Khaliq.


Perjalanan hidupku tak lepas dari hubunganku dengan makhluk-makhluk-Nya. Warna-warni kehidupan, hal yang aku dapatkan, dan pencapaian hidupku, semua karena bersatu padunya makhluk-makhluk yang digerakkan-Nya untukku. Selayaknya (atau sudah menjadi wajibnya) aku pun menyampaikan "terima kasih" kepada semua. Aku mengucapkan terima kasih untuk Ibu, kakak, keponakan, sahabat, teman, kerabat, tatangga dan semua atas semua yang terjadi dalam hidupku. Walaupun aku tahu, hal ini terkadang terasa berat untuk aku lakukan.


Namun aku punya kebiasaan untuk menuliskan ucapan "terima kasih" atas "sesuatu" yang terjadi dalam hidupku. Aku menuliskannya dalam buku kecil yang aku namai "THANKS BOOK". Jadi kalo aku "nggak sempat" mengucapkan terima kasih, aku ungkapkan di "THANKS BOOK"-ku.



Oiya, terima kasih ya....

Wednesday, April 9, 2008

Senyum (bagian kedua)




Teori I: Senyum bisa menular.
Senyum bagiku bukan hal baru. Tapi baru kali ini aku kepikiran untuk menuliskannya. Teori tentang senyum yang bisa menular sudah terbuktikan dengan jelas. Setidaknya dalam pengalaman perjalanan bersepada yang aku ceritakan kemarin.

Teori II: Senyum bisa membuat kita lebih kreatif.
Aku bekerja di bidang arsitektur, yang jelas-jelas butuh kerja kreatif. Menurut sebuah buku psikologi populer yang pernah aku baca, pada kerja kreatif ini untuk memunculkan ide-ide inovatif dituntut kondisi otak yang ”flow”. Bagaimana caranya agar otak bisa mencapai kondisi ”flow”? Ternyata kuncinya sangat sederhana: SENYUM.
Teori ini sudah aku buktikan ketika mengajak mahasiswa-mahasiswaku membuat suatu desain. Saat diawali dengan senyuman, proses desain jadi lebih menyenangkan dan hasilnya bisa ditebak: ide-ide desain mereka beragam dan penuh inovasi!
Sering aku mengingatkan mahasiswa-mahasiswaku (dan juga mengingatkan pada diriku sendiri), untuk selalu mengawali proses desain dengan senyuman. Bahkan beberapa mahasiswa selalu berkata, ”OK..OK.., senyum, Bu...” Pesan yang sangat sederhana, tetapi cukup lekat di hati mereka.

Mereka tersenyum, dan aku pun membalas dengan senyuman.
(Hey....! Maaf saat ini senyumanku tidaklah tampak sempurna karena kawat orthodenti yang terpasang di gigiku, tapi yang jelas... senyumku tulus dari hatiku terdalam....)

Senyum. Semoga senyum bisa menjadi tambahan amal ibadah yang indah.... Aamiin...

Tuesday, April 8, 2008

Senyum (bagian kesatu)


:-)


Aku bukan “a morning girl”, nggak mudah bagiku setelah shalat Subuh harus segera “bangun” dan langsung melakukan aktivitas fisik. Biasanya aku ambil selimut lagi dan…z..z..zzz…melanjutkan mimpi. Nanti saat matahari agak tinggi, baru aku bangun, mandi dan mulai merajut hari.
Tapi Sabtu pagi ini, entah ada energi dari mana yang bisa mengeyahkan kantukku. Segera aku berganti baju, kemudian mengeluarkan sepeda.

Sepedaan pagi hari.
Cukup lama aku tidak melakukannya. Sepedaan, muter perumahan dan kampung di sekitar Jaten. Mengayuh sepeda kesayangan, santai, bisa tengak-tengok, liat kiri kanan. Dengan kecepatan yang tidak lebih dari 20 kilometer per jam, hal tersebut sangat mungkin dilakukan dengan aman. Namun hal yang paling menarik bagiku adalah: ketika ketemu dengan mbok-mbok yang mau pergi atau pulang dari pasar, bapak-bapak yang lagi di sawah, orang jualan di pinggir jalan, atau adik-adik kecil yang masih polos yang menanti datangnya pagi untuk bisa segera bermain. Ada hal ajaib yang aku rasakan, saat pertemuan-pertamuan itu dihiasi dengan senyuman.


Aku yang sekedar lewat, mencoba tersenyum. Kadang juga basa-basi doang. Tapi ternyata... dari mbok-mbok, pak-pak, dan adik-adik yang aku temui, senyumku tersebut sering kali dibalas dengan senyuman yang jauh lebih indah disertai sapaan yang sangat ramah, dan ketulusan senyum-senyum itu bisa aku rasakan. Upsh.. pagi yang indah, karena aku ditunjukkan bukti nyata bahwa senyum bisa menular! Hebatnya lagi, senyuman yang menular tersebut akan terpantul dengan senyuman yang lebih tulus.


Pagi yang indah, penuh dengan senyuman... bekal bagiku untuk bisa berakselerasi mengarungi hari, merajut hari untuk bisa mewujudkan mimpi.

Besok pagi bangun pagi lagi yaa.... tebarkan senyum, dan menuai senyuman yang jauh lebih indah.

Thursday, March 13, 2008

Pencerahan

[uns spiritual power]
Dalam rangka Dies Natalis UNS ke-32, yang biasanya malam menjelang 11 Maret diadakan acara tirakatan, kali ini UNS mengadakan KONSER & GATHERING "UNS SPIRITUAL POWER".
Acaranya seru, seperti pelatihan motivasi, tapi kemasannya entertainment. Mengesankan bagiku. Setidaknya acara ini mengingatkan aku untuk tetap pada cita-citaku menjadi "guru".
Nggak gampang sih, tapi ini tantangan bagiku. Bila boleh aku memilih, aku mau kelak bila aku diberi kesempatan "kembali" pada-Nya, aku kembali sebagai guru yang dirindukan. Bila boleh, dan aku mau aku diperbolehkan-Nya.
...
(bukan mimpi...)

Tuesday, November 27, 2007

Memaafkan (bagian 3)

Memaafkan, juga (dengan ikhlas) melupakan.

Urusan maaf-memaafkan, proses ini sedang aku nikmati. Namun, ternyata tak mudah maaf itu benar-benar maaf yang sesungguhnya. Maaf yang tanpa dendam.

Memaafkan dan melupakan.
Maaf, bisa kuberikan. Melupakan, ini yang saat ini aku belum sepenuhnya sanggup melakukannya. Begitu banyak memori yang dengan tiba-tiba terbuka kembali, tanpa bisa aku kendalikan, untuk mengungkap ’luka’ lama yang tergores di hati (yang mungkin juga tanpa sengaja). Pedih kembali terasa, walau dalam lisanku, aku sudah memberikan maaf. Hatiku bisa tiba-tiba perih.
Inikah ”ketidakikhlasan” untuk memaafkan di hatiku? Masih jauhkah aku untuk bisa melupakan?

Seiring perjalanan waktu, aku berharap, aku pun bisa dengan bijaksana memaafkan dan melupakan, dengan keikhlasan hati.

Sekali lagi, semoga ...

Wednesday, November 7, 2007

Memaafkan (bagian 2)

Ada energi negatif yang tertahan dalam jiwa kita, saat kita masih memendam amarah, menyimpan dendam, dan ketika belum “mau” memaafkan.

Aku merasakan ada ganjalan di hatiku saat aku “tidak mau” memberikan maaf. (Karena, sejatinya aku punya banyak sekali maaf.)

Mau” memaafkan (ini lain urusannya dengan mampu), menyangkut keikhlasan hati. Ini yang bagiku memang sulit, dan aku masih harus banyak belajar.

Membuang jauh ganjalan di hati karena tidak mau memaafkan, adalah proses yang aku nikmati sekarang, yang menjadi kebutuhan jiwaku, untuk bisa melangkah dengan anggun menapaki hari-hariku.

Semoga …

Friday, September 28, 2007

Sapuan Putih

Tak mudah menghapus goresan dan menjadikannya putih tak bernoda.
Tak mudah menghapus noda dan dosa.
Bila putih bisa membuat putih.
Noda yang masih (dan selalu) membekas,
tetapi tertutup putih sapuan kuas.
Dosa yang tiada terhapus,
namum ada kebaikan yang membungkus.
Jika aku bisa berbuat satu demi satu kebaikan,
tanpa aku mengharapkan imbalan.
Jika aku berbuat baik dengan tulus,
maka.. nothing to loose!
Takan ada yang hilang,
saat aku tiada berharap sesuatu pun akan datang.
Tak berharap mendapat imbalan dari dari makhluk,
kecuali hanya keridhoan dari Yang Maha Satu Sang Pencipta makhluk.
(itukah makna keikhlasan kalbu?)
yang akan membawa putih yang sebenar-benarnya putih...
mengapa itu masih sangat sulit bagiku?
saat aku merebahkan tubuhku di pembaringanku,
sejenak sebelum tidur membuiaku,
ketika aku masih dalam alam sadarku,
mengapa aku masih sibuk berhitung,
seperti menghitung rugi dan untung,
kebaikan yang aku lakukan hari ini,
selalu diikuti perhitungan ini:
nanti siapa ya yang akan membalasnya?
nanti aku akan dipuji siapa ya?
telah berbagi hari ini,
pertanyaannya lagi:
ada nggak ya nanti yang mau menggantinya?
siapa lagi ya yang akan memujinya?
aahhh...
capek deh!
emang kalo nggak ikhlas, jadi capek ya..
ngitung mlulu!
Aku pengin bisa untuk tidak menghitungnya!
bahkan aku ingin bisa melupakannya!
Bisakah aku ikhlas dan tulus?
Bisakah aku "putih"?


Wednesday, September 26, 2007

Aku ingin putih (bukan mimpi)


Lima belas hari telah aku lalui Ramadhan ini. Setengah dari satu bulan penuh barakah merupakan kesempatan yang diberi-Nya. Begitu banyak noda dan dosa yang masih tergurat. Carut marut dalam catatan hidupku.

Kalau memang masih diberi-Nya kesempatan lagi di (kurang dari) setengah Ramadhan ini, aku bertanya pada diriku sendiri. Pertanyaan yang sebenarnya selalu terulang ketika melihat carut marut catatan hidupku, yang tumpang tindih tak karuan, membuat lembaran hidupku tak lagi putih.

Di "sisa" Ramadhan ini, dapatkah kembali menjadi putih bersih, seperti fitrah ketika pertama menghirup udara dunia?
Ketika putih dan suci, kemenangan ada di hati....

Semoga ini bukanlah mimpi.